Tragedi Pendidikan di NTT Menjadi Cermin Tantangan Pendidikan dan Peran Pemerintah Daerah di Pati




Tragedi Pendidikan di NTT Menjadi Cermin Tantangan Pendidikan dan Peran Pemerintah Daerah di Pati


Oleh: Muhammad Ainun Najhih
NTT, 4 Februari 2026 Kasus tragis seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk kebutuhan sekolah, telah mengguncang publik dan memantik perdebatan serius tentang pemenuhan hak dasar pendidikan di Indonesia. Peristiwa memilukan ini sekaligus menjadi cerminan rapuhnya akses pendidikan, hubungan pendidikan dengan kondisi perekonomian keluarga, serta tantangan pemerintahan daerah dalam melindungi dan memenuhi hak anak.
Kasus itu bermula ketika seorang siswa kelas IV berinisial YBS (10) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pohon cengkeh dekat rumahnya, setelah permintaan uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000 tidak dapat dipenuhi oleh ibunya karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kondisi keluarga korban digambarkan sangat memprihatinkan: sang ibu menjadi tulang punggung untuk lima anaknya, sementara ayahnya sudah lama meninggalkan keluarga. Sebelum gantung diri korban pun sempat menuliskan surat untuk ibunya, mengatakan:

Di usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia, tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa amanat UUD 1945 pasal 31 bahwa pemerintahan wajib membiayai Pendidikan dasar belum sepenuhnya hadir menaungi anak bangsa, reaksi publik terhadap tragedi ini sangat kuat. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyebut kejadian ini sebagai "ironi yang sangat menyakitkan" karena di tengah klaim peningkatan anggaran pendidikan, seorang anak masih kehilangan nyawanya hanya karena kebutuhan dasar belajar tidak terpenuhi. Ubaid juga mengkritik praktik yang membiarkan biaya operasional pendidikan dibebankan kepada wali murid, sehingga menciptakan tekanan berat bagi keluarga kurang mampu.
Tak lama setelah kabar itu menyebar, anggota DPR RI dari Komisi VIII, Ina Ammania, juga menyatakan bahwa kasus ini harus menjadi "alarm serius" bagi negara dalam menjamin perlindungan dan pemenuhan hak anak, termasuk hak atas pendidikan. Ia menegaskan bahwa tragedi semacam ini seharusnya tidak terjadi apabila negara hadir secara nyata dalam menyediakan layanan pendidikan dan perlindungan sosial bagi seluruh anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Pemerintah pun merespon. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan akan melakukan penyelidikan mendalam terkait peristiwa tersebut. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan belum memiliki detail informasi lengkap, namun menegaskan pentingnya mengetahui akar penyebab tragedi ini. Sementara itu, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyampaikan keprihatinannya dan mengatakan insiden ini menjadi perhatian bersama pemerintah pusat dan daerah, sekaligus menyerukan penguatan sistem pendampingan dan basis data keluarga miskin agar tidak ada yang terlewat dari bantuan sosial.
Kondisi Ekonomi dan Akses Pendidikan di Daerah, Kasus di NTT tersebut menyoroti hubungan langsung antara kondisi ekonomi keluarga dan akses terhadap pendidikan. Ketika kebutuhan paling dasar seperti alat tulis pun tidak terpenuhi, hal ini menunjukkan bahwa pendidikan, meskipun resmi dinyatakan sebagai hak dasar warga negara, masih jauh dari kenyataan bagi sebagian anak di berbagai daerah. Tekanan ekonomi yang dialami keluarga bukan hanya berdampak pada akses pendidikan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi anak-anak.
Apabila peristiwa memilukan ini ditarik ke konteks daerah lain seperti di kabupaten Pati, Jawa Tengah, terdapat pelajaran penting yang perlu dicermati oleh pemerintah daerah. Meskipun Pati memiliki kondisi sosial ekonomi yang relatif lebih stabil dibandingkan beberapa wilayah timur Indonesia, masih ada keluarga yang berada dalam garis rentan ekonomi sehingga membantu pemenuhan kebutuhan pendidikan anak menjadi hal krusial. Biaya tak terduga seperti alat tulis, seragam sekolah, maupun biaya transportasi dapat menjadi beban tersendiri bagi keluarga kurang mampu di daerah ini.
Evaluasi Peran Pemerintah Daerah, termasuk Kabupaten Pati, memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak tanpa dibebani biaya yang tidak semestinya. Di tengah tantangan pemenuhan hak dasar ini, pemerintah daerah harus memastikan bahwa program bantuan pendidikan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) berjalan dengan efektif dan tepat sasaran.
Langkah pertama yang vital adalah memperkuat data dan sistem pendataan keluarga yang kurang mampu sehingga bantuan dapat tepat sasaran dan mencakup semua kebutuhan dasar siswa. Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan dinas pendidikan, dinas sosial, dan lembaga kemasyarakatan untuk memperbarui data ekonomi siswa secara berkala. Hal ini dapat mencegah terjadinya kesenjangan antara data administrasi dan kondisi nyata di lapangan.
Selain itu, pemerintah daerah juga perlu mengoptimalkan jaringan kerja dengan sekolah serta lembaga masyarakat dalam menyediakan layanan dukungan psikososial bagi siswa. Banyak kasus tekanan psikologis pada anak berakar pada persoalan ekonomi dan lingkungan sosial yang tidak mendukung. Pendekatan komprehensif yang melibatkan komunitas sekolah, keluarga, dan pemerintah dapat membantu menciptakan ruang pendidikan yang aman dan kondusif sehingga setiap anak merasa dihargai dan didukung untuk berkembang.
Pendidikan, Perekonomian, dan Tata Kelola Pemerintah Kasus tragis di NTT tidak hanya soal ketiadaan buku atau pena, tetapi lebih luas merupakan cerminan persoalan struktural yang melibatkan tiga pilar besar: pendidikan, perekonomian keluarga, serta tata kelola pemerintahan daerah dalam menjalankan amanat konstitusi. Pendidikan, sebagai hak dasar warga negara, harus dijamin aksesnya tanpa terkecuali. Ketika sebuah keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar pendidikan, maka kewajiban kolektif negara untuk hadir menjadi tanggung jawab bersama.
Kondisi ekonomi keluarga yang kuat dan stabil menjadi landasan agar akses pendidikan dapat terwujud dengan baik. Pemerintah daerah perlu mengembangkan program pemberdayaan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, misalnya melalui pelatihan keterampilan, pemberian modal usaha kecil, atau kerja sama dengan pihak swasta lokal untuk membuka peluang kerja. Ketika perekonomian keluarga membaik, tekanan biaya pendidikan akan berkurang dan kesempatan anak-anak untuk berkembang secara akademis dan sosial semakin tinggi.
Peran pemerintahan daerah terutama di daerah Pati sangat sentral dalam menghubungkan kebijakan pendidikan dan perekonomian secara sinergis. Perencanaan anggaran yang baik harus mengakomodasi bukan hanya investasi fisik seperti pembangunan gedung sekolah, tetapi juga kebutuhan riil siswa seperti alat tulis, buku pelajaran, serta dukungan pendampingan sosial. Evaluasi rutin terhadap pelaksanaan program serta keterlibatan masyarakat dalam pengawasan bantuan publik akan memperkuat akuntabilitas dan kualitas layanan publik.
Harapan dan Langkah ke Depan Tragedi di NTT semestinya menjadi momentum perbaikan kebijakan pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk di Pati. Pemerintah daerah perlu mengintensifkan program pendidikan inklusif, memperkuat data sosial, serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam membantu keluarga rentan. Penanganan terpadu antara dinas pendidikan, dinas sosial, sekolah, dan masyarakat dapat membentuk sistem pendidikan yang adil dan berpihak pada anak.
Jika peristiwa malang seperti di NTT tidak mau terulang lagi di wilayah lain, pemerintah daerah harus mengedepankan kepentingan terbaik anak dan keluarga sebagai prioritas utama dalam perencanaan dan penganggaran. Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, tetapi investasi jangka panjang untuk kehidupan sosial dan ekonomi bangsa. Negara dan pemerintah daerah wajib hadir di setiap lini, memastikan bahwa hak dasar setiap anak terpenuhi, sehingga tidak ada lagi cerita tragis yang harus dibayar dengan nyawa.


Sumber Berita:
Nu Online
Megapolitan
Cumicumi.com
Dpr_ri


0 Response to "Tragedi Pendidikan di NTT Menjadi Cermin Tantangan Pendidikan dan Peran Pemerintah Daerah di Pati"

Post a Comment